Ketika Pesta tlah Usai

pesohor negeri April 20th, 2009

Pemilu telah selesai digelar. Yang menang bertepuk tangan, yang kalah bermanuver mencari celah. Apa saja yang bisa digunakan untuk menjegal sang pemenang. Tidak jujur lah, tidak adil lah, curang lah, money politic lah!

Wahai Para Pesohor…!

Bukankah sudah jadi kesepakatan bersama, bahwa pemilu harus curang, harus money politic. Gimana mau menang kalo gak ada uang, itu kan slogannya. Tinggal siapa yang beruntung saja yang menang. Kalau sama-sama curang kenapa berang?

Memang susah menerima kekalahan, masa sudah curang masih kalah?

Wahai rakyatku..!

Sadarlah bahwa Pemilu  adalah hajatan para cukong. Calon yang menarik, pasti banyak cukong melirik.  Begitu berkuasa, sang Pesohor  harus memenuhi janjinya pada sang cukong bukan pada kita rakyatnya. Semakin banyak cukong yang berinvestasi, semakin banyak agenda untuk memenuhi tuntutan sang cukong. Kalau perlu sepanjang masa kekuasaannya.

Jadi sang cukong lah pemenang sejatinya. Rakyat pun kembali menjadi jelata dan fakir. Masa pesta telah usai!

Madura kurang Eternit

Pesohor itu February 23rd, 2009

Dalam sebuah peresmian gedung perkantoran di Madura.

Pejabatan setempat yang Tuan Rumah (TR) : Jadi, Tuanku Raja…gedung ini sudah rampung dibangun, lengkap dengan semua fasilitas dan megah.

Raja : *manggut-manggut*

TR : Sudah pake AC, pake TV dan komputer semua lengkap Raja. Tinggal eternitnya yang belum…

Semua hadirin termasuk Raja otomatis mendongak, memandang langit-langit ruangan.

TR : ehmm…maksud saya eternit yang buat komputer itu Raja…*salah tingkah*
Raja : Oohhh internet….

TR : oh ya..ya…itu Raja

Pertanyaan gak penting : kenapa Madura ya…?

Tidurnya Nyenyaak…

Putri pesohor February 20th, 2009

Tuan putri harus menghadiri rapat di luar istana. Seperti biasa, sang sopir dan pengawal mengantar kepergian Tuan putri. Sampai dilokasi, Tuan putri langsung masuk ke ruang rapat setelah sebelumnya disambut oleh rombongan tuan rumah.  Dan pengawal pun duduk leyeh-leyeh di sofa ruang tunggu.

Hawa ruangan yang sejuk ditembah suasana yang hening membuat sang pengawal pun liyer-liyer. Mana Tuan putri kalo rapat lama sehingga tanpa terasa sang pengawal pun ketiduran.

Ketika rapat usai, Tuan putri pun bergegas menuju mobilnya. Ketika melewati ruang tunggu dan melihat pengawalnya tertidur, dia bilang ” wah tidurnya nyenyak. Sakno (kasihan)..biar aja gak usah dibangunin.” Dan Tuan puri pun meninggalkan lokasi rapat dengan diiringi wajah-wajah bengong penghuni kantor ditinggali pengawal.

Tak lama, sang pengawal terbangun, dan diberitahu bahwa ndoro-nya sudah jalan. “Tuan putri gak tega  mbangunin sampeyan mas.” ujar penghuni kantor.

Pengawal : “Huaaaaaahaaaa…..kog saya ditinggal, wah cilakaa neeh. ” Dan sang pengawal pun terbirit-birit meninggalkan lokasi entah mau naik apa main lari saja.

Tuan putri gak tega mbangunin pengawalnya yang ketiduran, tapi ndak tau kalo pengawal  bisa diturunin pangkatnya gara-gara gak ngawal tuannya. Huahaahaaaa……

Ket : Tuan Pesohor baru saja menduduki jabatannya sebagai pemimpin tersohor di negara

Foto Bareng..

Pesohor itu February 11th, 2009

Dalam sebuah hajatan, Pesohor Raja beserta Kanjeng Ratu hadir karena diundang sang pamengku hajat. Seperti biasa banyak tamu-tamu hadir. Tiba-tiba ada seorang yang cukup Kesohor- tapi belum kesohor betul- datang menghampiri Raja menyalami sang Raja dan Ratu sambil berbasa basi sejenak.

Sebelum sang Raja beranjak, tiba si cukup Kesohor itu memanggil tukang foto, “mas-mas, tolong doong saya di foto bareng Raja sama Ratu. Boleh kan Paduka?” Paduka pun mengangguk, Kanjeng Ratu pun tersenyum. Dan “pret” maksudnya dijepretlah sama tukang foto.

Keesokan harinya di sebuah warta pedesaan muncul foto Raja, Ratu dan si cukup kesohor itu dengan berita “KOALISI RAJA BERSAMA CALEG ANU” dibawahnya ditulis sang Raja mendukung caleg anu untuk jadi anggota DPR anu.

LHOOOO…..????????

*hasil chating sama teman menyimpulkan bahwa Politisi adalah seniman, karena semua dianggap panggung. Kalau di panggung berarti hanya bersandiwara dan tinggal tunggu honornya.” Ini catatan untuk edisi tulisan berikut jika sempet dan masih ada diingatan.

Pesohor yang lupa Kesohor

Pesohor itu January 27th, 2009

Kejadian #1

Kanjeng Ratu sedang istirahat di rumah ditemani putra-putrinya. Tadi pagi sang Raja berpamitan mau menengok rakyatnya. Sang Ratu berpesan kepada Raja supaya tidak melakukan perjalanan jauh. Dan sang Raja pun mengiyakan. Hanya di seputaran istana kog. Malam hari Sang Ratu meminta putrinya menelepon ayahanda Raja karena belum pulang ke istana. “Masih ada pertemuan di kampung sebelah” begitu jawab ajudan Raja melalui telepon.

Sang ratu yang mulai bosen, menghidupkan TV dan melihat berita di beberapa daerah. Dan tampaklah di TV Sang Raja sedang mengadakan kunjungan di Surabaya tadi pagi.

Ratu : KATANYA KAMPUNG SEBELAAAH…!!!

Kejadian #2

Dalam sebuah kunjungan ke daerah Jawa Timur bersama Sang Ratu, kami harus menginap di Surabaya. Malam hari menjelang istirahat Sang Ratu meminta disambungkan telepon kepada ajudan Raja. Sang Ratu pun bertanya : “Raja sedang dimana? Beliau gak boleh capek lo…sedang tidak enak badan.” Dan sang ajudan pun menjawab “Ini Juragan, Sang Raja lagi tahlilan di Kebon Jeruk.”

Dan malam itu kami pun beristirahat untuk memulihkan tenaga demi perjalanan esok hari. Pagi-pagi sebelum berangkat ke acara, sang babu hotel dengan sangat ramah dan baik hati membawakan koran pagi kepada Kanjeng Ratu.

“Ini lo kanjeng Ratu, saya bawakan koran pagi, ada beritanya Sang Raja loo…Kemaren berkunjung ke Jombang.” kata sang babu hotel dengan semangat sok membawa berita baik pertamakali di pagi hari.

Ratu : “Jombang pa KEBON JERUUUK..!!!

Kejadian #3

Raja : Nanti kalau ditanya sama Ratu, bilang ya saya ada pertemuan di Jakarta Utara. Sampai malam.

Babu-babu : Nggih Juragaan.

Sang Ratu menuju ke Bandara untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Sampai di bandara kami disambut dan diantar oleh para petugas VIP Bandara. Sambil tersenyum manis dan berlagak sok akrab, sang petugas bandara mencoba mengobrol dengan sang Ratu.

Petugas : Siang Ratu, waah mau jalan-jalan lagi ya? Kog gak bareng sang Raja? Barusan kami juga mengantar Raja naek pesawat mau ke Semarang.

Ratu : Jakarta Utara itu harus naik pesawat ke SEMARANG..!!!!

Demikianlah ketika Raja berkali-kali lupa bahwa beliau adalah Pesohor dan sangat mungkin masuk TV.

Tuan Putri Protes

Pesohor itu January 23rd, 2009

Suatu hari sang putri menghadap ayahanda Raja. Dia bertanya (dengan hati yang remuk redam) :

putri : Ayahanda, kenapa saya tidak pernah dibantu untuk belajar memimpin, untuk bisa menggantikan ayahanda. Malah orang lain yang ditenteng-tenteng, disediakan karpet merah dikasih kreta kencono. Saya selama ini belajar sendiri, ngurusin apa-apa sendiri nggak difasilitasi sama sekali, seringkali malah digebuki dan ayahanda diam saja. Mbok kayak Ratu sebelah, anaknya difasilitasi untuk jadi bakal ratu, dikasih kreta kencono dikasih tempat yang istimewa. Dimudahkan buat naik tahta…

Raja : nduk,  anakku.Justru karena ayahanda sayang sama dirimu. Aku tidak mau kamu keblinger dengan kekuasaan. Kekuasaan bukan diberi, bukan hadiah, bukan fasilitas. Kekuasaan harus diperjuangkan, diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh. Karena pemimpin bukan keturunan, tetapi pembelajaran. Tidak mudah menjadi pemimpin itu nak! Kamu harus belajar dan bekerja keras, harus turun gunung jalan kaki mendatangi rakyatmu. Tunjukkan dulu hasil kerjamu pada rakyat, karena rakyat tidak bisa dikelabui. Mereka tahu mana yang sungguh-sungguh pemimpin dan mana yang bukan. Pemimpin yang baik harus mempunyai pengalaman dan merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya. Jadi pemimpin itu tidak bisa instant, nak. Aku ndak pernah nggebuki anakku sendiri, karena kamu jatuh sendiri. Tidak apa-apa jatuh berkali-kali nduk, karena dari jatuh itu pemimpin yang sesungguhnya belajar.

Raja : Kamu ngerti nduk?

Putri : iya ayah. Maafkan saya ayah, saya sudah menyalahkan ayahanda. Saya kadang kelelahan digebuki kanan kiri dan ndak ada yang bantu. Tapi saya tidak akan menyerah, saya akan terus bekerja keras. Karena kepemimpinan bukan warisan. Bukan begitu ayah?

Hari itu di kerajaan mendung menggantung. Sang Raja menatap langit yang kelabu. “Masih banyak jalan kelabu itu nduk, perjalananmu masih panjang. Mendung-mendung itu akan membuatmu bijaksana, semoga.” bathin sang Raja.

Belajar Pidato

pesohor negeri December 25th, 2008

Dalam sebuah acara peresmian sebuah sekolah, Pesohor lokal yang baru saja terpilih menjadi Bupati harus berpidato di depan Pesohor negeri. Sang juru tulis diminta menyiapkan teks pidatonya secepat kilat. Dengan terburu-buru (kebiasaan) selesailah teks itu dan kemudian di serahkan kepada Pesohor lokal.

Acara pun dimulai, sang Pesohor lokal dengan langkah mantap dan penuh percaya diri berjalan ke podium untuk memberikan pidato perdananya di depan Pesohor Negeri.

“Yang terhormat Pesohor negeri beserta permaisuri, yang terhormat para punggawa kerajaan, dan yang terhomat bapak dua, ibu dua…..” Geeeerrrrrr..!!!!!!

*karena terburu-buru sang juru tulis menyingkat kata ulang Bapak-Bapak dan Ibu-ibu dengan penulisan Bapak2, ibu2. Cilakanya ini pesohor baru masih fresh graduate. Baca sesuai penulisannya*

Ketika TUHAN pun (diminta) Turun Tangan

Pesohor TV, Pesohor itu, pesohor negeri December 19th, 2008

Pemilihan raja baru akan digelar. Setiap rakyat yang baik harus menggunakan hak (kewajiban) pilihnya. Yang tidak baik boleh tidak memilih. Memang boleh tidak memilih?

Ketika pertarungan antar calon Raja semakin seru, digunakanlah segala trik dan strategi. Baik halal maupun haram bahkan yang abu-abu pun ditempuhnya. Kemenangan harus di tangan begitu kata sang (calon) Raja-Raja. Calon Raja (yang dulu sangat berpengaruh dan sekarang tidak lagi) ikut nyalon, Raja lain pun perlu melakukan manuver (yang kurang elok) untuk menjegal. Dan salah satu calon pun terjungkal sebelum pertarungan.

Karena sudah tahu, sang calon terjungkal itu berhadapan dengan sebuah sistem pemusnahan yang terstruktur dan susah ditembus,  maka beliau menetapkan tidak ikut bursa pencalonan dan tidak menggunakan hak pilihnya. Begitu juga pengikutnya, yang berbondong-bondong mengikuti sang calon. Setiap keliling desa menyapa pengikutnya, sang calon pun mengungkapkan ketidakmauannya menggunakan hak pilih.

Sementara di sisi lain, calon-calon Raja yang masih eksis merasa kebakaran jenggot dan harus melakukan tindakan pencegahan kampanye golongan tidak memilih (gotilih) yang dilakukan sang calon terjungkal. Bisa bahaya! Raja bisa tidak legitimate jika pemilih kurang dari50%. Ahhh..memang selama ini legitimate? Hush!

Dan tindakan pencegahan dilakukan secara besar-besaran. Semua punggawa-punggawa daerah dikumpulkan untuk membuat produk hukum baru, gotilih merupakan tindakan makar terhadap Raja, tindakan melawan hukum. Tak lupa para pemuka adat, pemuka agama dan pemuka-pemuka lain termasuk pimpinan organisasi agama yang katanya memiliki jutaan pengikut diminta membuat aturan bahwa kalau ikut gotilih maka bukan anggota organisasi elit tersebut. Nah loh?

Masih kurang juga? Sang calon-calon raja berpikir keras siapa lagi yang bisa diminta bantuan.  Sepertinya semua sudah dikerahkan. Tiba-tiba salah satu calon teringat satu hal. Yaaa…minta sama TUHAN. Betul sekali! TUHAN harus turun tangan untuk kali ini.

Dan segeralah majelis yang mewakili suara TUHAN berembug, menyampaikan petisi kepada TUHAN. Dan Sang Majelis konon sudah mendapatkan wangsit dari TUHAN : hamba yang memilih gotilih masuk NERAKA jahanam!

Loh, ntar dulu….Katanya calon terjungkal sudah tidak layak, ndak punya pengikut, suaranya sudah tidak didengar lagi oleh pengikutnya? Tetapi kenapa semua harus turun tangan termasuk TUHAN untuk membendung gerakan gotilih sang calon terjungkal. Jadi….?

Siapa yang kuat sebenarnya?

*mohon dibaca baik-baik ini hanya gombalan semata. Jangan merasa ini diri anda. Saya yang nulis aja ndak tau ini siapa*

She’s Back!

Putri pesohor December 10th, 2008

Perhatian sodara-sodara! Para handai taulan, para pengamat dan komentator. Para kawan maupun lawan. Para pesohor baik yang sudah, masih ataupun belum kesohor.

Bersiap-siaplah :

SHE’S BACK in THE MARKET!

Pesohor PUN Rindu Panggung

pesohor negeri December 4th, 2008

Raja sebentar lagi turun tahta. Untuk mendapatkan tahtanya kembali  harus siap bertarung dengan pesohor-pesohor lain yang juga mengincar tahta tersebut. Itulah kerajaan yang katanya demokratis.

Untuk bertarung, semua pesohor harus punya dana yang tidak sedikit. Tak kurang 8 trilyun harus disiapkan entah untuk siapa untuk mengambil hati rakyatnya supaya bersedia  mengantar ke puncak tahta.  Tetapi, banyak juga yang pesohor dan calon pesohor yang tidak punya pundi-pundi mencoba ikut pertarungan. Namanya kemujuran bisa jatuh kemana saja.

Berhubung  modal dana kurang mencukupi, maka  diperlukan tingkat  kepedean yang melebihi kemampuan. Berbagai taktik dan strategi dilancarkan. Semua event yang banyak orang banyak kerumunan dan gratisan dimanfaatkan seoptimal mungkin supaya kesohor hingga kepelosok negeri. Karena tak kenal maka tak ada coblosan. Kata salah satu informan lokalan, bahkan hajatan pernikahan pun dipergunakan. Gak penting kenal apa enggak sama sang mempelai atau yang punya hajat, yang penting tebar senyum kiri kanan, langkah meyakinkan dan pengawal yang sebanyak jumlah tamu undangan serta PD berjalan ke depan mempelai sambil tak lupa menyebut namanya keras-keras ketika bersalaman. Supaya mudah diingat ketika penjoblosan. Satu hal lagi, kirim undangan wartawan amplopan, gak penting isi pewartaannya, perwajahan yang utama. Bad or good is a news baby!

Suatu hari, salah satu pesohor yang sudah sangat kondang seantero jagat mengadakan acara kumpulan bareng rakyat. Karena sudah lama tidak keliling menyambangi warganya, maka diundanglah para warga untuk berkumpul di halaman rumah untuk sambung rasa. Beberapa teman sesama pesohor diundang, baik yang terkenal, belum terkenal maupun sudah tidak dikenal lagi.

Acara sambung rasa bareng warga berjalan lancar dan gegap gempita ribuan warga. Sorak sorai dan teriakan nama Pesohor pun terus bergema.  Teman-teman Pesohor pun tidak kalah gempitanya. Sambil bertepuk tangan, tak lupa membisikan kepada tuan rumah minta waktu untuk naik panggung. Sebagai tuan rumah yang sopan, sang Pesohor pun mempersilakan panggungnya untuk siapa saja yang menginginkan.

Berbondong-bondong para pesohor baik yang belum terkenal maupun yang sudah tidak dikenal naik panggung untuk menyampaikan dukungannya sambil tak lupa orasi untuk dirinya sendiri. Puluhan blitz kamera  mengarah ke arena panggung, dan disaksikan ribuan warga yang bersorak sorai. Besok pagi tinggal menuai publikasi (gratisan) bathin para pesohor sambil tak lupa mengumbar senyum dan lambaian tangan.

Ketika kita ingin jadi pesohor secara efektif dan efisien, tak perlulah membuat panggung sendiri. Cukup numpang panggung yang tersedia. Tinggal dikemas supaya nampak sebagai penumpang yang elegan dan berkharisma. Kocek dikantong tidak terkuras, tapi kesohoran tetap terjaga. Jangan lupa pilih-pilih kolega yang bisa ditumpangi tanpa utang budi yang membebani, sukur-sukur yang ikhlas tanpa biling seperti sang tuan rumah tadi. Walaupun jarang ada tumpangan tanpa berharap balasan di kemudian hari. Justru lebih banyak yang menagih budi tiada terkira sehingga rakyat (lagi) yang harus menanggung akibatnya.