Pemilihan raja baru akan digelar. Setiap rakyat yang baik harus menggunakan hak (kewajiban) pilihnya. Yang tidak baik boleh tidak memilih. Memang boleh tidak memilih?
Ketika pertarungan antar calon Raja semakin seru, digunakanlah segala trik dan strategi. Baik halal maupun haram bahkan yang abu-abu pun ditempuhnya. Kemenangan harus di tangan begitu kata sang (calon) Raja-Raja. Calon Raja (yang dulu sangat berpengaruh dan sekarang tidak lagi) ikut nyalon, Raja lain pun perlu melakukan manuver (yang kurang elok) untuk menjegal. Dan salah satu calon pun terjungkal sebelum pertarungan.
Karena sudah tahu, sang calon terjungkal itu berhadapan dengan sebuah sistem pemusnahan yang terstruktur dan susah ditembus, maka beliau menetapkan tidak ikut bursa pencalonan dan tidak menggunakan hak pilihnya. Begitu juga pengikutnya, yang berbondong-bondong mengikuti sang calon. Setiap keliling desa menyapa pengikutnya, sang calon pun mengungkapkan ketidakmauannya menggunakan hak pilih.
Sementara di sisi lain, calon-calon Raja yang masih eksis merasa kebakaran jenggot dan harus melakukan tindakan pencegahan kampanye golongan tidak memilih (gotilih) yang dilakukan sang calon terjungkal. Bisa bahaya! Raja bisa tidak legitimate jika pemilih kurang dari50%. Ahhh..memang selama ini legitimate? Hush!
Dan tindakan pencegahan dilakukan secara besar-besaran. Semua punggawa-punggawa daerah dikumpulkan untuk membuat produk hukum baru, gotilih merupakan tindakan makar terhadap Raja, tindakan melawan hukum. Tak lupa para pemuka adat, pemuka agama dan pemuka-pemuka lain termasuk pimpinan organisasi agama yang katanya memiliki jutaan pengikut diminta membuat aturan bahwa kalau ikut gotilih maka bukan anggota organisasi elit tersebut. Nah loh?
Masih kurang juga? Sang calon-calon raja berpikir keras siapa lagi yang bisa diminta bantuan. Sepertinya semua sudah dikerahkan. Tiba-tiba salah satu calon teringat satu hal. Yaaa…minta sama TUHAN. Betul sekali! TUHAN harus turun tangan untuk kali ini.
Dan segeralah majelis yang mewakili suara TUHAN berembug, menyampaikan petisi kepada TUHAN. Dan Sang Majelis konon sudah mendapatkan wangsit dari TUHAN : hamba yang memilih gotilih masuk NERAKA jahanam!
Loh, ntar dulu….Katanya calon terjungkal sudah tidak layak, ndak punya pengikut, suaranya sudah tidak didengar lagi oleh pengikutnya? Tetapi kenapa semua harus turun tangan termasuk TUHAN untuk membendung gerakan gotilih sang calon terjungkal. Jadi….?
Siapa yang kuat sebenarnya?
*mohon dibaca baik-baik ini hanya gombalan semata. Jangan merasa ini diri anda. Saya yang nulis aja ndak tau ini siapa*
Berbagi