Liburan imlek, mendadak dapat order kerjaan keluar kota. Pagi-pagi ke bandara, karena take off pesawat jam 8 pagi. Pesawat take off tepat waktu, dan perjalanan di udara lancar. Aku ketiduran, dan bangun ketika ada pengumuman persiapan pendaratan. Aku pun siap-siap. Tapi tunggu punya tunggu, pesawat tidak jadi mendarat di Semarang dan kembali ke Cengkareng, karena cuaca buruk. Duh, Gusti, sepanjang perjalanan balik ke Cengkareng hati ini gak karuan. Aku ketakutan, perjalanan 40 menit terasa sangat menyiksa, terasa berjam-jam lamanya. Rasa was-was dan pikiran aneh-aneh bergelimpangan di kepala. Susah sekali menenangkan diri. Aku takut terbang.
Aku jadi ingat, ketika masih jadi pembantu Sang Pesohor. Naik pesawat sudah seperti menu harian. Hampir tiap hari, aku mengikuti Sang Pesohor keliling daerah. Banyak penerbangan sudah kami lakukan, tidak pernah ada satu kali pun kejadian yang tidakmengenakkan. Mungkin benar kata orang, Sang Pesohor banyak malaikat pelindungnya. Paling banter masalah penerbangan adalah delay, itu pun tidak pernah lama. Kadang delay menjadi hal yang menyenangkan, karena aku bisa punya waktu istirahat di bandara. Di bandara tertentu kami sering dijamu dengan makanan khas daerah tersebut yang dijamin eunaak. Aku pun tidak penah punya kekuatiran atau takut untuk terbang. Semua aku jalani seperti berangkat ke kantor setiap hari. Bandara menjadi rumah kedua.
Penerbangan memungkinkan aku ada di 3 pulau dalam 1 hari . Seperti yang pernah aku jalani, satu hari aku berada di pulau Sumatra, Jawa dan Madura. Pagi-pagi berangkat dari Jakarta, menuju Palembang, dari Palembang kembali ke Jakarta, tapi hanya sampai bandara. Sang Pesohor, janji ketemu orang di bandara. Setelah itu terbang ke Surabaya. Di Surabaya kita langsung cabut ke Madura, naik mobil dengan kecepatan yang, ah..ndak usah dibayangin, pokoknya itu perjalanan tercepat yang pernah aku tempuh. Di Madura ribuan masa sudah menanti. Selesai di Madura, kembali lagi ke Surabaya karena sudah ditunggu acara dinner dengan salah satu kelompok organisasi. Dan perjalanan hari itu diakhiri di Surabaya.
Pernah suatu masa aku jenuh sekali melakukan penerbangan. Rasanya naik pesawat terasa memuakkan. Melihat pramugari memeragakan alat-alat safety, mendengarkan pengumuman-pengumuman kru terasa seperti rutinitas yang sangat menjemukan. Dan aku susah sekali tidur di pesawat, bagaimanapun capeknya.
Daratan menjadi sesuatu hal yang sangat aku rindukan. Dari jendela pesawat, melihat hijau tanaman, melihat kelokan sungai, melihat baliho iklan, seperti mimpi yang terwujud. Sebentar lagi mendarat. Akkhhh….
Tetapi kejenuhan itu tidak pernah berlangsung lama. Apalagi kalau sudah di darat, bertemu ribuan masa yang ingin bertemu dengan Sang Pesohor. Berbagai pengalaman yang lucu, mengharukan, dan mebahagiakan mampu menghapus semua kejenuhan dan kelelahan.
Sekarang aku takut terbang. Aku sudah tua.
Salatiga : malam,hujan, dingin, tanggal 10 Februari 08
Pstt…ingin tau cerita-cerita mengasyikan bersama ribuan masa? Tunggu postingan berikutnya.
Categories: