Hush!
Jangan ngeres dulu. Kejadian ini sudah lama sekali. Puasa tahun 2002 atau 2003. Wah lupa. Saya dapat tugas melayani Ibu Suri -Istri Sang Pesohor- melakukan perjalanan ke Surabaya memjumpai penggemar. Sebelum acara jumpa penggemar yang dilakukan dini hari, sorenya kami ada acara buka bersama. Ternyata pas acara buka bersama Sang Pesohor bersama putrinya nyusul ke Surabaya (Ket : sangat biasa tidak ada koordinasi antar keluarga, tau-tau nongol). Buka bersamanya dilakukan di Hotel Sangrilla bersama pesohor-pesohor kecil di Surabaya atau yang sok sohor.
Acara berakhir pada pukul 9 malam. Saatnya saya mengantar Ibu Suri ke kamar. Yang sudah tentu kamarnya Sang Pesohor juga. Setelah selesai beres-beres, Ibu Suri beranjat istirahat. Dan Sang Pesohor pun menyusul ke kamar. Seharusnya Putri Bungsu pesohor menemani di kamar, tetapi mendadak si Putri dijemput teman-temannya dan mereka pun pergi sampai kapan ndak tau. Ajudan Sang Pesohor - pria- merasa sungkan kalau mau masuk-masuk kamar bantuin Sang Pesohor karena ada Ibu Suri. Jadi, terpaksalah saya yang masuk-masuk kamar. Sampai kemudian Ibu Suri mendaulat, “wis kene, kowe turu kene. Bareng aku mbek Bapak.” Duaaarrrr…!!!!
Rasanya mau lari aja, bingung, takut. Wah..wah…Kalau tidur sama Ibu Suri dah biasa. Bahkan sering kalau keluar kota. Karena Ibu Suri gak nyaman tidur sendiri. Walapun itu di President Suite sekalipun. Karena itu aku pernah tidur di President Suite hotel-hotel terkemuka di Indonesia. Nah ini. Tidur bareng Pesohor? Karena akan ada acara jumpa fans dini hari, jadi tengah malam aku harus bantu Ibu Suri dan Sang Pesohor menyiapkan segala sesuatu. “Turu kene wae. Ben ra kadohan”
Jadi kalau orang pada rebutan mau salaman, cium tangan atau hanya memegang baju Sang Pesohor, saya malah pernah tidur bareng. Siapa mau?
Apakah yang terjadi? Di kamar itu, kami tidur bertiga, tapi saya tidak satu kasur tentunya. Dan yang lain tidak perlu saya ceritakan disini. Heheee….Yang pasti saya susah tidur.
Sang Pesohor, Anda begitu sederhana..dan bersahaja. Dan Sang Pesohor pun nyaman saja tidurnya satu ruangan sama pembantu.
Sejak saat itu, saya sering dikira anaknya Sang Pesohor, karena Sang Pesohor tidak menganggap saya pembantu.
Categories: