Pada saat rapat di rumah Sang Pesohor, kita semua diajak makan malam bersama Ibu Suri, menemani beliau buka puasa. Ibu Suri rajin sekali puasa daud, dan puasa senin kamis. Jarang sekali lihat Ibu Suri tidak puasa. Kami makan satu meja, para pembantu, sahabat ibu suri dan putri ibu suri duduk mengelilingi meja.
Di tengah makan, Sang Pesohor datang dari bepergian keluar kota. Sang pesohor pun bergabung makan dengan kami. Kemudian putrinya mengajak bercanda Bapaknya. “Pak, aku punya lelucon baru. Mau dengerin gak?†kata putrinya. Sang pesohor mengangguk, mendengarkan sambil makan. Mereka biasa makan sambil bercerita layaknya keluarga biasa. Karena jarang ketemu, disamping orang tuanya yang sibuk, anak-anaknya pun enggak kalah sibuk, makan semeja merupakan peristiwa yang langka. Dan mereka biasa bertukar cerita di meja makan.
“Gini ni Pak..†Mulailah si putri bercerita. Tokoh yang diceritakan adalah Bapaknya sendiri.
“ Pada suatu hari, Bapak diperiksa neeh, sama Pak Dokter. Ternyata, Bapak kolesterol dan tekanan darahnya tinggi. Wah..Bapak harus diet nih, kata sang dokter. Bapak hanya boleh makan sayur, buah dan daging dari hewan yang bisa berenang aja. Dan Bapak harus mematuhi diet itu.â€
Sang pesohor terus menyimak cerita putrinya. “Trus gimana?†tanya sang pesohor kepada putrinya.
Si putri melanjutkan ceritanya, “ Bapak langsung bilang, sanggup sambil tersenyum yakin. Nah minggu berikutnya Bapak kontrol ke Dokter. Tetapi hasilnya tetap belum baik. Sang dokter curiga, Bapak gak mematuhi diet tsb. Bapak tetap menjawab dengan yakin, bahwa diet itu dijalankan. “Saya hanya makan hewan yang bisa berenang,Dok” kata Bapak.Dokternya kebingungan. Kog bisa terjadi ya? Sampai suatu kali, dokternya berkunjung ke rumah Bapak. Ketika di tanya Bapak dimana, sama pembantu dibilang Bapak di belakang. Dokter langsung ke belakang dan nampak di kolam renang Bapak lagi ngajarin sapi berenang.â€
Huakakaaakkaakkk……dan sang ibu Suri pun menimpali, “yang kurus sapinya dong..†Sang pesohor tersenyum kecut. Beliau tahu putrinya sedang menyindir. Karena sang pesohor memang tidak terlalu peduli dengan kesehatan, dan paling susah untuk melakukan diet.
Di meja makan, demokrasi yang sesungguhnya terjadi. Pembantu duduk semeja sama Tuannya, anak boleh mengkritik orang tua, dan dihadapan kami para pembantu, tidak ada batasan. Dan Sang pesohor menerim kritik putrinya. Dan putrinya cukup menghormati orang tuanya dengan sindiran halus. Dengan bercanda mereka menyelesaikan berbagai persoalan. Dan itulah khas keluarga Sang Pesohor.
Categories: