Posted by: matahati | 17th Mar, 2008

KRL Oh..

Pagi-pagi, sang putri bersiap-siap menuju ke sekolah. Ibu Suri sedang rapat, sang putri menghambur masuk ke ruangan. Sekalian pamit sambil minta uang saku. “Buat transpor ma…mau naek kereta” pinta Sang Putri. Ibu Suri mengulurkan uang Rp 10.000, “Pulang sekolah, langsung pulang jangan mampir-mampir” pesan Ibu Suri. Sang putri sambil senyum-senyum jail berlalu sambil teriak ” Okeee mamaa…”

Rapat pun di teruskan kembali. Ketenangan rapat kembali diusik dengan datangnya sesosok laki-laki, dengan napas terburu-buru dan kepala basah kuyup. Sang pengawal dengan muka ketakutan, bertanya : “Mohon ijin Ibu Suri, Tuan Putri dimana ya?” Tanpa mengalihkan pandangan ke pengawal Ibu Suri menjawab, ” yaa sekolah to yaa..tadi minta uang buat naik kereta” “Sudah berangkat ya?” gumam pengawal dengan muka pucat dan menunduk hormat kepada Ibu Suri pelan-pelan beringsut keluar ruangan.

Sampai di luar, Pengawal pun berlari-lari sambil melakukan kontak ke penjagaan, ” Tuang Putri sudah jalan tanpa pengawalan. Naik KRL. Aman kaaan…!!!!” Teriakan pengawal didengar seluruh petugas dan punggawa. Hiruk-pikuk suasana di penjagaan. Rapat kilat segera diadakan dalam rangka menyelamatkan Sang Putri. “Kontak kepolisian setempat, kontak semua stasiun, amankan! Jangan bocor informasinya..” Kalimat-kalimat perintah memenuhi ruangan penjagaan. Dan beberapa petugas berlari menuju mobil yang sudah disiapkan. Tiba-tiba informasi masuk : Kereta sebentar lagi masuk di stasiun Manggarai. “Hentikan di Manggarai! kasih tau aja, ada pemeriksaan rutin”Komandan memberikan perintah. Petugas dan pengawal memacu mobilnya ke arah stasiun Manggarai.

Sampai di Manggarai, tampak polisi berjaga-jaga. Informasi sudah sampai di Kepolisian. Bersama pengawal dan beberapa petugas kereta, Bapak-Bapak Polisi memasuki setiap gerbong sambil mengamati penumpang satu per satu. Para penumpang beberapa cuek saja, tiduran, bahkan main kartu. Beberapa lagi bertanya-tanya, “ada apa..ada apa..?” Semua petugas bungkam. Penumpang saling melihat penuh kecurigaan. “Ada maling ya?” tanya penumpang. “Gak tau, mungkin.” jawab yang lainnya. Penumpang yang gak sabaran pun terus mengomel “Apaan seh ini? Keretanya rusak lagi? Buruan doong, panaas niih..” Celometan para penumpang tak dihiraukan petugas. Mereka sibuk memeriksa wajah-wajah penumpang. Berjalan diantara gerbong-gerbong yang penuh sesak, dan pengap. Petugas pun mendesak penumpang supaya minggir. “Ada pemeriksaan rutin, tolong minggir” beberapa petugas ada yang bicara, yang lainnya tetap diam seribu basa sambil meneruskan pencariannya.

Tiba-tiba terdengar suara dari HT “Sudah.Sudah ketemu.” Petugas pun menggandeng sang oknum yang dicari pelan-pelan supaya tidak menarik perhatian. “Sang Putri silakan turun, kami akan antar ke sekolah” bisik petugas. Sang putri yang lagi bengong-bengong berdiri di tengah-tengah penumpang kebingungan. Walaupun tidak melawan ketika diambil petugas, malas-malasan sang putri keluar dari gerbong KRL yang berjubel. Beberapa orang berbisik ” idih..kenapa tuh anak SMA. Kena garuk ya..?” Yang lain nyeletuk, ” Kecil-kecil kog kriminal..” Untung sang putri tidak mendengar. Dan kereta pun diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Tak satu pun penumpang menyadari telah seperjalanan dengan Putri Pesohor.

Sang Putri turun dari kereta disambut pengawalnya dan diantar ke mobil. “Aduuh Putri, lain kali jangan naik kereta ya..berbahaya. Tuan putri akan saya antar kemana pun. Saya jangan ditinggal lagi.” kata pengawal sambil membukakan pintu mobil. ” Emang kenapa? Saya biasa naik kereta kog. Aman-aman saja, tadi Mamah juga ngijinin malah saya dikasih uang buat naik kereta. Kalau naik mobil aku bisa telat neeh.” Sang putri cemberut.

“Waduuh, Tuan Putri kan anak Pesohor. Ndak boleh naik angkutan umum. Tidak boleh! Melanggar prosedur, Nanti saya bisa dipecat.” pengawal berkata sambil muka penuh kecemasan. Sang Putri langsung diam begitu mendengar pengawalnya bisa dipecat. Mobil pun berjalan dengan kecepatan puool dan dikawal motor bersirine nguing-nguing. Buat mengejar kereta tadi..eh..biar tidak telat sekolahnya, walaupun tetep… telaat. “Aku malu pake nguing-nguing, nanti diketawain temen-temen” gumam Sang Putri. “Nanti dimatiin kalau sudah dekat sekolah Tuan Putri.” kata pengawal. Sang Putri pun diam sambil menerawang, entah apa yang dipikirkan.

D bagian lain, di ruang rapat Ibu Suri. Salah satu staf kepercayaan Ibu Suri sempat bertanya, ” Mbak, kog sampeyan ngasih putri naik kereta. “Ndak papa, sudah biasa kog. Dia kalo ke sekolah naik kereta.” jawab Ibu Suri. Staf kepercayaan pun menambahkan. ” Lah itu kan dulu, sebelum Bapaknya jadi Pesohor di istana. Kalo sekarang kan gak boleh. Anak pesohor gak boleh naik kendaraan sembarangan, dan harus di kawal, begitu prosedurnya.” staf kepercayaan menerangkan sambil menahan senyum.

Tau gak apa jawab Ibu Suri?

“Oalaah..aku lali nek dadi pesohor. Kelinganku isih koyo mbiyen, biasa numpak kereta (Aku lupa kalau jadi pesohor. Seingatku masih kayak dulu biasa naik kereta-mh)” jawab Ibu Suri sambil mengelus dada dan tersenyum. Dan ruang rapat yang tadinya khidmat, pecah dengan derai tawa.

Mh : Kapan kah ini terjadi? Satu minggu setelah SK pengangkatan Pesohor. Maaf, Ibu Suri belum terbiasa jadi pejabat. Hahaaa……

Responses

jadi pesohor ternyata perlu training juga ya…
siap2 nih jadi pesohor, gantiin dia..

wekekek. untung aku wis siap siap dadi peso, eh, pesuruh. hehehehe

untung aku wis siap siap dadi peso, eh, pesuruh. hehehe

mau ndak mau, ya harus mau. salam kenal juga mbak

alangkah enaknya jadi anak dari orangtua biasa. lebih bebas :D

bababku bambang, ibuku nita. see? ga ada satupun yang bernama pesohor. untunggg…

=====> untung yo dudu anake Pesohor, hahaaa…terimaksih dah disambangi..:)

Leave a response

Your response:

Categories