Madura selalu identik dengan cerita lucu dan konyol. Banyak penokohan guyonan berasal dari Madura. Tapi untuk kali ini, Madura tidak lucu.
Dalam suatu acara kunjungan ke Madura, saya ikut serta bersama Pesohor dan Ibu Suri. Sempat mikir, gimana naik feri-nya ya? Masak satu feri di blok buat rombongan Pesohor? Ternyata tidak. Kami nyebrang bersama-sama penumpang lainnya, walaupun teteeep kami didahulukan, dan di sisi mobil kami berdiri pengawal-pengawal. Tapi ndak papa lah, dari pada di blok sendirian kapalnya, kan kasihan yang sudah antre, lagian mubazir dong kapalnya.
Sampai di pelabuhan Bangkalan, rombongan penyambut Pesohor sudah thirik-thirik di pinggir pelabuhan. Kami pun meluncur keluar dari kapal. Kami telambat dari jadwal yang sudah ditetapkan, dan saya baru tahu kalau ternyata undangannya jam 1 siang, kami baru nyampe jam 4 sore. Selama perjalanan menuju lokasi kita berpapasan dengan truk-truk mengangkut orang-orang pada sarungan. Tiap ketemu kita, truk yang tadinya berlawanan arah, langsung putar balik, ikut rombongan di belakang Pesohor. Sempat saya tanya sama panitia penjemput, kenapa truk-truk itu tiap papasan sama kita langsung muter ngikutin kami. Ternyata mereka dari tempat acara, yang sudah pada mau pulang, karena menunggu sejak jam 12 siang. Begitu melihat romobongan Pesohor, mereka batal pulang dan merapat rombongan ikut ke lokasi. Oaalaaah..kasiannya. Kami memang mis-informasi. Kami tahunya acaranya jam 4 sore (hal ini sering terjadi, mis-komunikasi dengan orang Madura. Entah kenapa).
Tibalah kami di lapangan…eh bukan lapangan, tapi masjid yang di depannya ada halaman luas. Acaranya berlangsung di masjid. Yang hadir banyak luber-luber sampai ke halaman. Pas mau masuk ke masjid, panitia berpesan kepada kami untuk menyimpan alas kaki Pesohor dan rombongan. Walaah gimana nyimpannya, orang berdesak-desakan dan saya pun bawa banyak perlengkapan. Ya sudah kita simpan dipinggir saja. Wong cuma alas kaki.
Seperti biasa, setelah pidato penyambutan dari tuan rumah, Sang Pesohor pun mulai bicara. Semua langsung mendengarkan dengan khidmat, sambil sesekali bertepuk tangan. Pidato selesai dan acara puncak pun dimulai. Jadi, puncaknya bukan pidato Pesohor -menurut saya lo- tetapi rebutan salaman sama Pesohor dan Ibu Suri. Kenapa puncak? Karena itu pekerjaan paling berat, mengendalikan orang ribuan yang berebut salaman, kadang jam tangan ilang, gelang Ibu Suri entah nyangku dimana, atau baju sobek sudah biasa, keinjek-injek, didorong-dorong, pernah juga kegampar gak sengaja tapi bikin puyeng. Semua orang boleh salaman. Tetapi ada hal yang baru saya lihat untuk pertamakalinya, di sela-sela salaman, para penggemar menyelipkan amplop ke tangan Pesohor dan Ibu Suri. Pada awalnya saya bingung, kog Pesohor diamplopin? Mana yang ngamplopin itu ada ibu-ibu, nenek-nenek dengan baju kumal lusuh, kurus. Ndak tega saya melihatnya. Ketika saya sempat bilang sama salah satu nenek, bahwa nggak usah ngamplopi Pesohor, Sang Nenek pun menangis bercucuran airmata. Walah! Saya pun kebingungan. Sang Nenek ngomong pake bahasa Madura yang artinya kira-kira begini : “Tolong ini diterima, jangan ditolak. Saya ingin mendapat berkah, kalau ditolak saya tidak akan dapat berkah dari Sang Guru.”
Sampai saya nulis ini, saya tetap berkaca-kaca jika mengingat kejadian itu. Betapa luar biasa penghargaan mereka kepada Gurunya, walaupun mereka kekurangan, tetapi dengan tulus memberikan uangnya untuk bekal Guru. Katanya mereka sudah mendapatkan berkah banyak dari guru-guru, dan begitulah caranya membalas pengabdian gurunya. Tidak sedikit yang mesti berjalan kaki jauh sekali untuk menemui sang Guru dan memberikan amplop berkah itu.
Akhirnya saya mebungkus amplop-amplop yang jumlahnya ribuan dengan kain yang diberikan oleh salah satu panitia. Dan rombongan Pesohor pun bersiap-siap pulang. Keluar dari masjid, kami mencari alas kaki kami. Hilang! Tidak ada satu pun. Waduh gimana nih? Dan Sang Pesohor pun berjalan tanpa alas kaki, katanya : “Ndak papa..gak usah dicari.” Dengan bertelanjang kaki kami pun menuju mobil. Salah seorang ibu menjawil saya, “Nak, sandalnya saya ambil, buat saya simpen supaya dapat berkah.” Dan saya pun kembali melongo..Tapi kan saya bukan Pesohor bukan guru. Katanya:”nDak papa sandal sampeyan. Sampeyan kan bekerja sama Pesohor. Sama berkahnya!” Wuaaah…tambah bingung aja saya. Sewaktu di mobil, salah satu panitia menerangkan bahwa sandal Pesohor dan Ibu Suri selalu jadi rebutan, bahkan penderek-pendereknya. Nanti disimpan supaya dapat berkah, begitulah kepercayaan mereka. Jadi, siapa yang mau sandal saya? Supaya berkah lo..huk..huk (terharu gak jelas).
Bagaimana dengan amplopnya? Pada penasaran ya..??? Hahahaaa. Saya pun begitu. Sampai di hotel Surabaya, kami pun membongkar amplop-amplop itu. Dan isinya beragam, dari Rp 25 sampai Rp 20.000. Tapi kebanyakan Rp 1.000 ke bawah. Dan berceritalah Pesohor, bahwa di Jawa Timur dan Madura ada kebiasaan memberikan kepada mereka yang dianggap Guru, uang sebagai tanda terimakasih atas ilmu yang diberikan. Dan itu atas kesadaran sendiri, tanpa paksaan supaya Sang Guru bisa tetap mengajar , tanpa dibebani mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Di beberapa daerah kebiasaan itu tetap berlaku, walaupun Sang Guru jauh lebih mampu, para murid yang miskin sekalipun tetap akan menyumbang karena itu kebahagiaan mereka bisa menyumbang Guru. Berkah yang dinanti.
Walaupun setelah kita kumpul-kumpul jumlahnya tidak seberapa, tapi pelajaran yang luar biasa buat saya. Keyakinan masyarakat di sana bahwa Guru itu posisi yang sangat mulia, jalan untuk mendapatkan berkah dari Sang Kuasa.
Jadi, seberapa besar saya menghargai Guru? Maafkan saya, selama ini tidak menghargai dengan baik guru-guru saya. Dan Nenek-nenek di Madura pun menangis…
Categories: