Media dan Pesohor

April 21st, 2008

Suka baca koran, atau portal berita atau berita TV? Saya sudah bosan, dan cenderung malas. Bukan karena beritanya yang selalu nggegirisi, bukan! Juga bukan karena isi beritanya yang hampir sama disemua media. Karena, kalo melihat berita atau baca berita berasa kerja, hahaa…Secara dulu salah satu pekerjaan saya memelototi berita-berita di mana pun, kapan pun dan bikin laporan rutin. Sekarang saya lebih asyik nonton gosip, yang katanya tayangan tidak bermutu dan tidak mendidik itu. Tetapi kata temen saya,tayangan gosip sekarang juga termasuk berita yang harus dimonitor,karena banyak tokoh-tokoh politik dan pemerintah menggunakan tayangan itu buat menaikan rating diri, atau menjatuhkan lawan. Waduuh..!!! Bahkan, kata sebuah sumber, tayangan gosip impact-nya lebih nendang daripada berita-berita, press release, dsb. Asyik doong…Tayangan gosip naik pangkat neeh!

Pernah enggak, anda di situasi begini : anda tahu persis sebuah kejadian tentang salah satu Pesohor, dan kejadian itu di muat di media dengan berita sebaliknya. Dan ditayangkan secara sungguh-sungguh seakan benar adanya? Apa rasanya? Jengkel, mangkel, pengin bikin press conference? Hahahaa…Secara kita saksi hidup gitu looh! Saya pernah, bahkan beberapa kali mengalaminya. Awal-awal sih jengkel, pengin meluruskan semuanya, dan menjadi pahlawan tentunya. Walau itu hanya sebatas keinginan, karena pada akhirnya kita membiarkan bersama hilangnya gema gosip itu di media. Sebagai bedinde kita tidak boleh mengumbar omongan kemana pun, sekalipun dengan niatan meluruskan, karena efeknya di media bukan menjadi lurus, tapi semakin rame!

Beberapa kali saya mengalami, Pesohor saya diberitakan yang jelas-jelas gak bener. Bahkan ada beberapa tokoh-tokoh yang ikut komen membenarkan berita itu. Beuh! Dan kebohongan-kebohongan semakin mengalir di segala penjuru. Tak jarang saya ditanya sama keluarga teman-teman tentang berita tersebut, dan senjata ampuh saya adalah -tersenyum sambil menjawab, “waaah ndak tau saya..wong bukan bagian saya”. Kenapa saya jawab begitu? Karena percuma meluruskan berita yang sudah mendunia itu. Tetep aja mereka akan bilang, “La situ kerja sama si Anu seh” atau “Situ kan digaji sama Bapak Anu.” Repot kan? Dan seperti sebuat tayangan serial di TV “Dark justice”Halah! Kami para bedinde biasanya cukup diam dan tersenyum manis.

Sekarang saya tidak lagi sama Pesohor. Kalo ada berita-berita soal Pesohor-Pesohor kita, saya jadi negative thinking. Jangan-jangan ngarang kayak dulu itu. Pernah saya komplain ke salah satu media yang kebetulan wartawannya teman baik saya. Saya tegur teman saya itu, kenapa gak cross cek sama boss saya. Jawabnya, “Eh sori ya..belum sempet interview sama bosmu, dikejar deadline neeh.” Atau lain waktu saya tanya sama wartawan lain yang teman saya juga, kog muat berita yang gak bener. Jawabnya, ” Aduh gak bener yach..? Oke deh nanti di ralat, atau boss mu kirim surat keberatan deh! Nanti pasti di muat.” Dan saya tahu persis, boss saya tidak akan mengirimkan surat semacam itu, karena, biasanya neeh..,semakin di ralat, berita itu bukannya akan hilang, tapi malah semakin semarak. Lah yang tadinya gak tau beritanya, baca ralatnya malah penasaran pengin tau berita awalnya. Dan kecenderungan pendapat pembaca atau pemirsa kita, bahwa semakin dibantah adalah semakin benar adanya.

Jadi, masih percaya gosip dan berita-berita? Nonton gosip mah teteeuuup,…, lumayan buat hiburan sambil tebak-tebakan sama teman benar tidaknya! Hahaaaaa…..

Dan media tetap menjadi idola buat para Pesohor, dibenci sekaligus dicari.

4 Responses to “Media dan Pesohor”

  1. kw Says:

    wah jadi kita harus pintar dong ‘membaca” berita mana yang sesungguhnya, mana yang cuman bohong-bohongan buat naikin rating….

    berarti blog, media alternatif yang independen. haha

    ===> gak tau juga mas..apa blog itu independen, hahaaa….

  2. kw Says:

    memang siii… tergantung bloggernya juga.. tp kalau aku di suruuh nulis dan di bayar 200 juta….
    tentu saja mau…
    toh cuman belasan ini yang baca blog ku:)

    aku bisa bagi2 kan bayarannya…..

  3. bangsari Says:

    kalo media adil, tentu tak ada yang namanya freeport, caltex, newmont atau whatever lah. tapi media yang membohongi juga ada bagusnya. bukankah orang yang paling bahagia adalah orang yang melihat semuanya indah? hanya orang bodohlah yang bisa begitu. dan saya berbahagia menjadi bagian dari orang orang yang bahagia itu. hehehe

    ==============> dan saya juga bahagia menjadi saksi kebohongan-kebohongan itu…:)

  4. matahati Says:

    Ini komen dari : JmZach - thnaks jek, nyangkut gak bisa masuk komen-nya.

    Lama2x kelihatan kok media mana yang berisi fakta dan media mana yang berusaha menyajikannya seperti “fakta” he2x.
    Sekarang karena ada blog, saya prefer juga untuk berkunjung ke blog sang pesohor/public figure (kalau ada) jika ada klarifikasi atau menjadi rujukan dari yang bersangkutan, sebelum pernyataan-nya keburu diplintir oleh oknum menjadi seolah-olah “fakta”.

Leave a Reply