Petuah Satu
April 24th, 2008
Sore, duduk bareng Pesohor (maksudnya, Pesohor duduk di kursi bersama teman-teman baiknya, kami para pembantu ngglosor di lantai)
Teman : Mas, kenapa keadaan di kantor dibiarkan begitu? Apa enggak kuatir nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?
Pesohor : Apa yang mau dikuatirkan? Semua keadaan itu kan sudah ada yang ngatur. Kita ikuti saja. Wong saya sudah tahu semua, dan tugas saya adalah memberi kesempatan buat semua. Kalo yang diberi kesempatan enggak bisa, mosok saya mesti mendorong-dorong, mendesak. Wong sudah pada gede.
Teman : Tapi resikonya mahal, cost - nya besar. Masak dibiarkan.
Pesohor : Saya sudah tahu, dan sudah saya peritungkan.
Teman : Gimana dengan sanak saudara Pesohor di kantor itu? Kan mereka bisa ikut-ikutan hancur? Apa ndak sayang to?
Pesohor : Mereka sudah besar, mereka harus belajar. Kalau tidak sanggup ya jangan diteruskan. Biar saja mereka jatuh, kejedhug, kejengkang. Biar mereka belajar. Saya gak pilih-pilih, mau siapa saja, sodara, anak, semua sama. Kalo mau mimpin yan harus belajar, harus jatuh. Tau rasa sakit itu gimana. Biar mereka juga tau gimana cara menyembuhkan rasa sakit itu.
Teman : Tapi kalo anak sampeyan gimana?Gak kasian to?
Pesohor : Semua sama, kesempatan yang sama saya berikan kepada siapa saja.
Teman : Sampeyan gak kuatir po anak sampeyan kenapa-kenapa?
Pesohor : Ujian terbesar orang tua adalah anaknya. Dan saya terima ujian apa saja dari-Nya.
Dan kami para pembantu, duduk termenung. Ah, gak sampai pikiran kami Juragan!
Leave a Reply