Hari-hari di TV lagi dipenuhi oleh berita salah satu Pesohor yang akan bercerai. Kenapa heboh? Karena selama ini Sang Pesohor itu menjadi rujukan sebagai pasangan yang harmonis walaupun beda agama. Rujukan sebagai artis yang tabah mendampingi suami dibui disaat artis yang lain minta cerai. Kenapa saya menulis sang Pesohor tersebut? Bukan karena hal yang kontroversi tersebut, tetapi karena ada hal yang saya rasakan sangat mengganggu dari pernyataan sang Pesohor yaitu : Sangat dangkal apabila masalah ekonomi dan agama sebagai alasan perceraian saya.

Iya sangat terganggu dan kepikiran terus sehingga saya merasa perlu menuangkan di blog tidak kesohor ini. Apa yang dianggap dangkal itu, justru menurut saya itulah masalah paling krusial dalam relasi rumah tangga, yaitu : agama dan ekonomi. Jadi tidak dangkal sama sekali, justru sangat mendasar.

Mari kita jujur pada diri sendiri, apakah betul masalah ekonomi itu dangkal? Kalau iya, berapa rumah tangga yang berguguran karena pilar ekonominya runtuh? Tidak ada data yang valid memang, tetapi masalah ekonomi banyak menjadi pemicu timbulnya masalah-masalah lain dalam rumah tangga. Salah seorang Pesohor yang poligami pernah bercerita kepada saya, sepanjang pilar ekonomi keluarganya baik-baik maka istri-istri relatif lebih tenang, tidak bergolak. Tapi kalo perekonomian jatuh, jangan kan yang poligami yang monogami saja bisa berantakan. Semua masalah jadi naik ke permukaan. Hal-hal kecil menjadi besar, karena ekonomi itu adalah kebutuhan pokok, di depan mata, tidak bisa ditunda. Kalo masalah hati bisa diatur. Itu kata temen saya yang Pesohor lo..dia mengalami sendiri ketika jatuh perekonomiannya dan ketika jaya makmur sentosa. Ada juga Pesohor lain yang cukup terkenal, sering ada di acar-acara sosialita, mengaku rumah tangganya sudah dingin. Sang suami sudah punya pacar (dan saya kenal) lagi. Ketika saya tanya kenapa ndak cerai? Jawabnya : buat apa? Perekonomian kami sudah mapan, kalau bercerai malah bikin masalah, belum tentu saya semapan ini kalo ganti pasangan. Kita sudah nyaman begini, sola berita diluar saya gak anggep. Anak-anak juga cuek, toh kebutuhannya tercukupi dan mereka juga sudah mandiri. Ha.

Begitu juga menurut saya. Perekonomian menjadi sendi yang penting, bahkan di agama juga diatur demikian. Pernah ada cerita, salah satu sahabat nabi mengadukan temannya yang ketika sholat berjamaah dengan nabi selesai dia langsung bergegas pergi, tidak ikut wiridan, berdoa. Jawab nabi : dia harus mencari nafkah pagi-pagi sekali buat keluarganya, jadi tidak apa-apa dia tidak ikut berdoa. Karena jauh lebih utama dan wajib baginya menafkahi keluarganya sepanjang tidak melalaikan ibadah wajibnya.Naah..nabi saja menetapkan bahwa mencari nafkah itu utama, wajib! Banyak ketetapan-ketetapan agama bahwa wajib hukumnya menafkahi keluarga, bahkan istri berhak minta cerai apabila suami tidak menafkahinya.

Sekarang agama. Bagaimana sebuah agama selama ini cuma menjadi cap dan status KTP membuat agama dianggap dangkal. Padahal agama itu fitrah, dasar, hak asasi manusia. Agama menurut saya bukan label bahwa saya Islam, kamu Kristen, Hindu. Bukan! Islam (agama) adalah aturan hidup, petunjuk, GBHH (garis besar haluan hidup). Bagaimana jika dalam satu rumah ada dua haluan? Kemana kapal akan dibawa? Kalau manual book nya beda, gimana cara menjalankannya? Saya tidak dalam rangka memojokkan orang yang menikah berbeda agama, tetapi betapa agama ini masalah krusial, masalah pokok! Butuh kerja yang sangat keras untuk mengayuh biduk dalam dua haluan. Dan saya juga meyakini, pada dasarnya orang tidak menginginkan pernikahan beda agama, tetapi ketika jalan hidupnya seperti itu merupakan sebuah pilihan yang ada resikonya. Dan saya menghargai pilihan orang.

Menyatukan dua kepala dalam satu rumah saja merupakan hal yang sulit, bagaimana jika ada dua haluan di rumah mereka. Bukan tidak mungkin, tetapi itu sesuatu hal sulit sekali. Apakah kemudian kapal itu tidak kemana-mana? Atau hanya mengalir mengikuti haluan yang dominan? Atau tidak ada haluan sama sekali, hanya mengikuti arus dan ombak, tidak tahu tujuan akhir dimana. Wallahu alam.

Jadi ya mbak Pesohor.. mari kita renungkan bersama-sama. Karena statement ada di dengar oleh segenap lapisan penonton. Ya nasib sampeyan jadi Pesohor..urusan dapur jadi hiburan penonton TV, jadi pencetak uang stasiun TV dan PH. Anda harus hati-hati bikin conferensi pers. Jawaban anda tidak konsisten antara satu dengan yang lain, membuat pemirsa menebak-nebak dan tambah penasaran. Alamat durasi bisa berhari-hari.

Tetapi sebenarnya, Mbak masih punya pilihan yang lebih bijak.

Satu, sangat kami maklumi dan kami justru simpati kalau anda jujur bahwa masalah agama dan ekonomi adalah sebabnya karena itu masalah mendasar bukan dangkal.

Dua, kalau anda ragu-ragu atau tidak berani mengungkapkan alasannya, ya gak usah ditanggapi para infotainment itu. Beri penjelasan secukupnya bahwa anda mau cerai, titik. Ndak usah dijelas-jelasin apa masalahnya atau tutup mulut saja selamanya, ndak usah konferensi pers. begitu sekali anda bikin conferensi pers akan ada conferensi-conferensi berikutnya yang kadang tidak terkendali lagi. Dengan conferensi pers berarti secara tidak langsung kita mengijinkan urusan dapur kita diutak-atik.

Percaya sama saya Mbak Pesohor. Sudah sepuluh tahun saya kerja sama Pesohor-Pesohor. Hal-hal seperti itu, jika dibuka di media akan ada bukaan-bukaan berikutnya dari berbagai versi dan sumber. Tetangga, sopir, pembantu, Ketua RT kalo perlu tukang sampah bisa mendadak menjadi selebritis, dan tambah panjang durasi tayangan dapur anda. Kalau kita diam, memang akan ditongkrongi dan disumpah-sumpahi, tetapi nanti akan berhenti. Karena jika mereka tidak mendapat info dari sumber utamanya, beritanya jadi garing ndak menarik lagi sehingga cepat turun dari tayangan. Dan yang pasti masalah tidak jadi ngombro-ombro kemana-mana. Tidak ada masalah pribadi yang dapat diselesaikan dengan rapi, santun (seperti permintaan adik Pesohor) jika sudah kita umbar dimedia. Silakan diamati.

Mbak Pesohor, diluar hal tersebut di atas : saya salut dan simpati atas ketegaran anda selama ini. Anda bukan cangkir yang rapuh, tetapi gelas plastik, tidak bisa pecah, tahan banting dan siap menampung air-air curahan hati teman-teman anda. Badai kehidupan akan membuat anda naik kelas. Semoga Keberkahan dan kesabaran senantiasa dilimpahkan dalam hidup anda. Oh ya satu lagi…ada jodoh yang lebih baik kog untuk Mbak, tidak usah memutuskan sendiri untuk seumur hidup, karena menikah adalah sunnah, berkah. Salam.

Leave a Reply