Di Lapangan
June 8th, 2008
Hari itu panas terik luar biasa. Di tengah lapangan ada panggung dan tenda besar di pasang, tetapi tidak bisa menahan panas barang sedikit pun. Dan orang-orang sudah penuh bergerombol di lapangan, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak. Tukang jualan pun tak lupa menggelar dagangannya di sekitar lapangan. Mereka semua tetap setia menunggu, tak peduli panasnya yang gak ketulungan. Sebagian tetap berdiri, yang lain duduk-duduk di rumput tapi tidak ada yang bergerak meninggalkan lapangan.
Yang ditunggu pun tiba. Terlambat dari jadwal, dan masyarakat sudah padat di lapangan yang panas tak terhingga. Begitu turun dari mobil, semua orang bergerak ke satu arah, pintu mobil. Pesohor turun dan semua berebut untuk bisa salaman atau sekedar menyentuh anggota badannya. Pasukan Pengaman berjaga-jaga dengan ketatnya. Saking ketatnya, kami rombongan Pesohor susah untuk bergerak. Terinjak sepatu lars sudah biasa. Jangan tanya jempol rasanya kayak apa. Dan Pesohor berjalan ke atas panggung dengan tersendat-sendat. Kedorong, keinjak,kepukul menjadi tugas kami para pembantu demi membelah lautan manusia yang semua punya keinginan yang sama, salaman.
Pesohor sudah naik panggung. Orang-orang ikut berebut ke atas panggung. Dan panggung pun berderit-derit. Bahaya-bahaya! Panggung tidak kuasa menahan beban karena terlalu banyak orang yang ikut naik. Semua ingin dekat Pesohor, tak terkecuali Petugas keamanan. Semua ingin menjadi penting. Dan kami para pembantu berteriak-teriak menyuruh sebagian orang turun. Sudah tidak pakai aturan sebuah perhelatan. Banyak juga yang tetap membandel, sehingga dengan terpaksa mengeluarkan jurus ancaman dan kekuasaan sebagai orang dekat Pesohor. Maaf.
Pesohor mulai pidato, dan orang-orang mulai kembali ke posisi dan suara hiruk pikuk berangsur-angsur mulai menyepi dan tinggallah suara pidato Pesohor. Semua diam, semua mendengarkan dengan khidmat. Pesohor berbicara dengan bahasa mereka, dengan pilihan kata yang dipahami mereka, dan hal-hal yang memang mereka hadapi sehari-hari. Bukan dengan kata-kata muluk dan bahasa canggih. Bukan membicarakan permasalahan yang hebat tetapi membicarakan hal-hal yang sederhana. Bukan sesuatu yang mudah, butuh kemampuan berkomunikasi tingkat tinggi.
Itulah rutinitas pertemuan Pesohor dengan rakyatnya. Hampir di semua tempat di negeri ini. Penggunaan bahasa sesuai daerah masing-masing menjadikan kekuatan tersendiri. Kerendahan hati dan memposisikan diri sama dengan rakyatnya menjadikan pidato yang sederhana menjadi luar biasa.
June 9th, 2008 at 9:30 am
hehe setelah salaman, rasanya gimana sii?
Babu (Bb) : Rasane kemeng mas wong kepidak-pidak, kadang yo mumet barang wong kesaduk prajurit. ;))
June 13th, 2008 at 3:10 pm
dadi penasaran, sak umur-umur aku belum pernah tau pidatonya langsung. mbok kapan-kapan aku dikandani mba. aku ra njaluk salaman kok. aman.
Babu (Bb) : seringnya di luar kota Boss, bahkan di luar pulau, terutama di desa-desa. Mau cuti?? Ayuuk ajah..:))