Posted by: matahati | 7th Aug, 2008

Pilihan yang menghancurkan

Sebuah email masuk hari ini :
“……………..saya menuliskan ini dengan hati yang remuk redam. Sudah lama saya memikirkannya. Tapi saya harus segera melakukan tindakan. Saya harus bertarung antara rasa sayang dan perjuangan. Mulai hari ini saya putuskan, kamu harus memilih. Tidak boleh tidak memilih atau minta pilihan lain.

Tahu kah kamu, saya menuliskan ini dengan hati yang hancur……..”

Saya tidak kuasa membaca terus email tersebut. Karena saya sudah tahu akan kemana akhir dari email itu. Sebuah pilihan yang telah ditetapkan. Pilihan yang menghancurkan. Menghancurkan semua.

Pesohor, walaupun saya cuma babu, saya ikut merasakan keremukredam-an hati Pesohor.
Tetapi kalau saya boleh bicara, yang harus memilih pun hancur lebur, Pesohor.
Saya harus memilih yang mana? Si penerima melontarkan tanya yang tidak perlu saya jawab. Saya tahu kesedihanmu Ndoro..

Responses

Semua pilihan pasti ada konsekuensinya. Kalau aku pilih yang rasa sesalnya paling minimal ;)

Matahati : betul sekali Nona…tetapi kadang rasa sesal tidak bisa diukur duluan, hehe…Salam kenal Nona (terkenal). :)

hm… ndoromu itu terlalu sering mengajak perang orang (lain dan saudara) jeung. meski sebenarnya saya pernah jadi pengikutnya, tapi saya sudah lama tak berminat lagi. terlalu banyak pertikaian yang tak semestinya.

aku juga cape bolak-balik liat gontok-gontokan orang bersarung kalee..

aku selalu penasaran apakah pesohor ini imajinasi opo tenanan, mirip-mirip sama yang tenanan itu tapi opo iyo ?

salam kenal

Leave a response

Your response:

Categories