Sebuah email masuk hari ini :
“……………..saya menuliskan ini dengan hati yang remuk redam. Sudah lama saya memikirkannya. Tapi saya harus segera melakukan tindakan. Saya harus bertarung antara rasa sayang dan perjuangan. Mulai hari ini saya putuskan, kamu harus memilih. Tidak boleh tidak memilih atau minta pilihan lain.
Tahu kah kamu, saya menuliskan ini dengan hati yang hancur……..”
Saya tidak kuasa membaca terus email tersebut. Karena saya sudah tahu akan kemana akhir dari email itu. Sebuah pilihan yang telah ditetapkan. Pilihan yang menghancurkan. Menghancurkan semua.
Pesohor, walaupun saya cuma babu, saya ikut merasakan keremukredam-an hati Pesohor.
Tetapi kalau saya boleh bicara, yang harus memilih pun hancur lebur, Pesohor.
Saya harus memilih yang mana? Si penerima melontarkan tanya yang tidak perlu saya jawab. Saya tahu kesedihanmu Ndoro..
Categories: