Telepon - 2
June 14th, 2008
Pesohor : tolong sambungin ke Gorbachev
Babu : Baik Pak.
Dan Babu hiruk pikuk mencari nomer Gorbachev. Bongkar-bongkar semua data nomer telepon Pesohor-pesohor. Banyak banget nomer Gorbachev. Babu bingung yang mana yaa..???
Pesohor : Ini nomernya. +789712458960876321011
Babu langusng memencet dengan gerakan samber geledek, karena Pesohor menyebut dengan cepet. Bener apa enggak ya..?
Babu : Helo…Bla….Bla.. Bapak ini sudah tersambung
Pesohor : Hello….bla..bla…
Loh ternyata bener nomernya. Pesohor masih hapal. Selesai nelpon babu penasaran bertanya
Babu : Bapak hapal nomer telepon siapa aja..?
Pesohor : Udah enggak banyak. Sekarang cuma hapal ratusan nomer saja.
Babu : Ha..???? Memang dulunya hapal berapa Pak?
Pesohor : yaaa..ribuan.
Konon kabarnya sampai sepuluh ribu nomer telepon. Wuaaahhh…!
Telepon-1
June 14th, 2008
Kring…kring….kring
“Halo..halo…” Babu satu mengangkat telepon. Aduh ngomong apa ini? Gak jelas…Oh, pake bahasa Inggris. Mbak, mbak ini yang nelpon pake bahasa Inggris! Diambil alih sama Babu senior.
“Helo…..” bla..bla…
What? Who? Muka babu senior mbingungi. Babu senior : Telepon buat Pesohor. Segera sambungkan. Dari siapa? tanya pengawal. “Gorbachev” kata babu senior. “Ha? Bohong banget seh..masak Gorbachev nelpon sendiri. ” tanya pengawal gak percaya. “Dah lah sambungin ajah!”
Dan pengawal terbirit-birit menyerahkan handset telepon ke Pesohor yang sedang jalan pagi. Tampak Pesohor berbicara di telepon sambil jalan pagi. Selesai bicara, Pesohor mengangsurkan handset telepon, “dari Michael Gorbachev, mau ngundang saya. Tadi dia nelpon sendiri”
Jadi bener????
Di Lapangan
June 8th, 2008
Hari itu panas terik luar biasa. Di tengah lapangan ada panggung dan tenda besar di pasang, tetapi tidak bisa menahan panas barang sedikit pun. Dan orang-orang sudah penuh bergerombol di lapangan, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak. Tukang jualan pun tak lupa menggelar dagangannya di sekitar lapangan. Mereka semua tetap setia menunggu, tak peduli panasnya yang gak ketulungan. Sebagian tetap berdiri, yang lain duduk-duduk di rumput tapi tidak ada yang bergerak meninggalkan lapangan.
Yang ditunggu pun tiba. Terlambat dari jadwal, dan masyarakat sudah padat di lapangan yang panas tak terhingga. Begitu turun dari mobil, semua orang bergerak ke satu arah, pintu mobil. Pesohor turun dan semua berebut untuk bisa salaman atau sekedar menyentuh anggota badannya. Pasukan Pengaman berjaga-jaga dengan ketatnya. Saking ketatnya, kami rombongan Pesohor susah untuk bergerak. Terinjak sepatu lars sudah biasa. Jangan tanya jempol rasanya kayak apa. Dan Pesohor berjalan ke atas panggung dengan tersendat-sendat. Kedorong, keinjak,kepukul menjadi tugas kami para pembantu demi membelah lautan manusia yang semua punya keinginan yang sama, salaman.
Petuah Tiga
April 25th, 2008
Suatu hari dalam acara jumpa pers.
Wartawan : Boss, katanya ada ancaman pembunuhan terhadap sampeyan ya? Kira-kira siapa ya Boss?
Pesohor : ya memang ada. Ya saya ndak tau dari siapa.
Wartawan : Boss gimana menanggapinya?
Pesohor : La saya suruh gimana? Wong namanya juga cuma ancaman. Saya nggak perlu menanggapi. Kalo perentah atau tugas ya saya tanggapi.
Wartawan : Tidak ada pengamanan tambahan Boss?
Pesohor : Ndak perlu. Buat apa? saya merasa aman kog.
Wartawan : Apa Boss nggak takut terjadi apa-apa?
Pesohor : Loh kenapa saya harus takut?
Wartawan : Mungkin bukan Boss sasarannya, kalo keluarga Boss gimana?
Petuah Dua
April 25th, 2008
Hari itu Pesohor ulang tahun. Sederhana saja, dihadiri teman-teman dekat dan keluarga. Kami makan-makan ngobrol dan mendengarkan beberapa petuah dari Sang Pesohor.Dan inilah salah satu petuah di hari ulang tahunnya :
” Saya mengucapkan terimakasih kepada semua hadirin, yang telah datang di ulang tahun saya. Ulang tahun saya hari ini adalah bonus dari Gusti Allah. Sebagai manusia, saya sudah diberi semua oleh Gusti, keluarga saya baik-baik saja, anak-istri semua sehat. Anak-anak saya sudah selesai semua sekolahnya. Saya sudah mendapatkan semuanya. Saya sudah pernah menjadi Pesohor di negeri ini, saya sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini, dan masih diberi perpanjangan umur. Tidak ada alasan buat saya untuk tidak bersyukur atas semua berkah yang dilimpahkan kepada saya sekeluarga. Tugas saya sudah selesai. Pekerjaan saya juga sudah selesai, kalau pun ada yang belum selesai, itu kan anggapan sampeyan-sampeyan saja sebagai manusia. Menurut saya semua itu sudah selesai, karena Gusti Allah memberikan kepada saya yang memang segitu. Sekarang saya ni kan tinggal nunggu panggilan. Saya sudah ndak ada pinginan apa-apa. Terimakasih kepada semuanya.
Dan kami pun terharu. Salam ulang tahun itu dituturkan dengan suara pelan, dan penuh kedalaman. Ndak seperti biasanya yang berapi-api. Kesenduan meliputi suasana pesta ulang tahun hari itu. Ada apakah gerangan dengan Pesohor kita? Selalu ada banyak tafsir dari semua yang dibicarakan beliau.
Saya sebagai pembantu, tetep saja nggak nyandak.
Selamat ulang tahun, bagi yang berulang tahun. Bonus Tuhan ada dimana-mana dan buat siapa saja.
Petuah Satu
April 24th, 2008
Sore, duduk bareng Pesohor (maksudnya, Pesohor duduk di kursi bersama teman-teman baiknya, kami para pembantu ngglosor di lantai)
Teman : Mas, kenapa keadaan di kantor dibiarkan begitu? Apa enggak kuatir nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?
Pesohor : Apa yang mau dikuatirkan? Semua keadaan itu kan sudah ada yang ngatur. Kita ikuti saja. Wong saya sudah tahu semua, dan tugas saya adalah memberi kesempatan buat semua. Kalo yang diberi kesempatan enggak bisa, mosok saya mesti mendorong-dorong, mendesak. Wong sudah pada gede.
Teman : Tapi resikonya mahal, cost - nya besar. Masak dibiarkan.
Pesohor : Saya sudah tahu, dan sudah saya peritungkan.
Teman : Gimana dengan sanak saudara Pesohor di kantor itu? Kan mereka bisa ikut-ikutan hancur? Apa ndak sayang to?
Ini di Madura
April 17th, 2008
Madura selalu identik dengan cerita lucu dan konyol. Banyak penokohan guyonan berasal dari Madura. Tapi untuk kali ini, Madura tidak lucu.
Dalam suatu acara kunjungan ke Madura, saya ikut serta bersama Pesohor dan Ibu Suri. Sempat mikir, gimana naik feri-nya ya? Masak satu feri di blok buat rombongan Pesohor? Ternyata tidak. Kami nyebrang bersama-sama penumpang lainnya, walaupun teteeep kami didahulukan, dan di sisi mobil kami berdiri pengawal-pengawal. Tapi ndak papa lah, dari pada di blok sendirian kapalnya, kan kasihan yang sudah antre, lagian mubazir dong kapalnya.
Sampai di pelabuhan Bangkalan, rombongan penyambut Pesohor sudah thirik-thirik di pinggir pelabuhan. Kami pun meluncur keluar dari kapal. Kami telambat dari jadwal yang sudah ditetapkan, dan saya baru tahu kalau ternyata undangannya jam 1 siang, kami baru nyampe jam 4 sore. Selama perjalanan menuju lokasi kita berpapasan dengan truk-truk mengangkut orang-orang pada sarungan. Tiap ketemu kita, truk yang tadinya berlawanan arah, langsung putar balik, ikut rombongan di belakang Pesohor. Read the rest of this entry »
Hari Jum’at
March 3rd, 2008
Siang itu hari Jum’at. Selesai Rapat di istana, para pembantu pada ngabur ke belakang. Dua pembantu cowok ikut-ikutan nimbrung di belakang mencari ganjalan perut. Tiba-tiba seorang teman nyeletuk : “loh, kalian gak jum’atan?”. Dua teman cowok nyengir aja, sambil njawab ” Tuh, Pesohor juga gak Jum’atan. Lagi makan siang sama Ibu Suri.” Moso to? Para pembantu pun melongok ke ruang makan. “Loh..iya..ya..”
Dan kita pun meneruskan makan di dapur belakang. Tiba-tiba seorang pejabat istana yang perempuan masuk. “Kalian kog gak Jumatan. Cepetan tuh, Pesohor sudah kotbah.”
Serius…? Read the rest of this entry »
Sapi Sang Pesohor…
February 16th, 2008
Pada saat rapat di rumah Sang Pesohor, kita semua diajak makan malam bersama Ibu Suri, menemani beliau buka puasa. Ibu Suri rajin sekali puasa daud, dan puasa senin kamis. Jarang sekali lihat Ibu Suri tidak puasa. Kami makan satu meja, para pembantu, sahabat ibu suri dan putri ibu suri duduk mengelilingi meja.
Di tengah makan, Sang Pesohor datang dari bepergian keluar kota. Sang pesohor pun bergabung makan dengan kami. Kemudian putrinya mengajak bercanda Bapaknya. “Pak, aku punya lelucon baru. Mau dengerin gak?†kata putrinya. Sang pesohor mengangguk, mendengarkan sambil makan. Mereka biasa makan sambil bercerita layaknya keluarga biasa. Karena jarang ketemu, disamping orang tuanya yang sibuk, anak-anaknya pun enggak kalah sibuk, makan semeja merupakan peristiwa yang langka. Dan mereka biasa bertukar cerita di meja makan.
“Gini ni Pak..†Mulailah si putri bercerita. Tokoh yang diceritakan adalah Bapaknya sendiri. Read the rest of this entry »